
ACEH - Hujan belum sepenuhnya reda ketika truk-truk bantuan kembali bergerak menembus jalan berlumpur di pedalaman Aceh. Di sejumlah titik, akses terputus total. Listrik padam berhari-hari. Sinyal komunikasi menghilang. Namun di tengah keterbatasan itu, satu hal tetap dijaga: kerja kemanusiaan tak boleh berhenti.
Aceh kembali diuji. Banjir dan longsor akibat bencana hidrometeorologi menghantam berbagai wilayah—dari pesisir hingga dataran tinggi. Ribuan warga kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan rasa aman. Dalam situasi seperti inilah, solidaritas lintas daerah dan kerja bersama menjadi kebutuhan paling mendesak.
Komitmen Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Irsan Sosiawan Gading, terhadap masyarakat terdampak banjir di Aceh diwujudkan secara nyata. Sebanyak 10 ton sembako dikirim menggunakan truk tronton menuju Kabupaten Bireuen dan Kota Lhokseumawe. Pengiriman ini menegaskan bahwa sejak hari-hari awal bencana, suplai bantuan dari Irsan terus mengalir—tidak hanya di daerah pemilihannya, tetapi juga hingga wilayah-wilayah yang paling terdampak.
Tak berhenti di sana, Ketua DPW Partai NasDem Aceh itu juga menyalurkan bantuan sembako kepada dapur umum mahasiswa yang beroperasi di Banda Aceh. Bantuan ini menyasar mahasiswa yang terpaksa bertahan di ibu kota provinsi akibat akses jalan dan jembatan terputus, serta lumpuhnya jaringan komunikasi pascabencana.
Penyaluran bantuan berlangsung pada 10–17 Desember 2025, mencakup dapur umum Asrama Mahasiswa Kota Langsa, Asrama Mahasiswa IPPAT Aceh Timur, Asrama Mahasiswa IPAU Aceh Utara, Asrama Mahasiswa Aceh Tamiang, serta dapur umum mahasiswa asal Aceh Tengah dan Bener Meriah di kawasan Anjungan PKA Banda Aceh.
Dalam kondisi darurat itu, mahasiswa berinisiatif mendirikan dapur umum secara swadaya—memasak, berbagi logistik, dan memastikan sesama mereka tetap bertahan di tengah keterbatasan.
Selain mahasiswa, bantuan juga disalurkan kepada warga terdampak di Banda Aceh dan Aceh Besar, termasuk mereka yang tertahan karena rusaknya infrastruktur penghubung. Sebagian di antaranya tengah menghadiri agenda keluarga maupun kegiatan akademik, seperti wisuda anak di perguruan tinggi, sebelum bencana menutup semua jalur pulang.
26 Ton Bantuan, Menjangkau Tujuh Kabupaten
Hingga tahap ketiga, DPW Partai NasDem Aceh terus memberikan bantuan dengan menyalurkan 26 ton bantuan kemanusiaan ke tujuh kabupaten terdampak: Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Nagan Raya.
Bantuan terdiri dari kebutuhan pokok, logistik darurat, perlengkapan pengungsian, hingga kebutuhan mendesak lainnya. Distribusi dilakukan melalui jalur darat dan udara, dengan upaya ekstra untuk menjangkau wilayah-wilayah yang terisolasi.
Kerja ini tidak bersifat sesaat. Penyaluran dilakukan secara berkelanjutan, menyesuaikan kondisi lapangan dan kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Aceh Tamiang: Posko di Tengah Sunyi
Di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, sebuah posko darurat berdiri sederhana di depan sekolah negeri. Lumpur masih tebal menggenang. Air bersih sulit diperoleh. Sinyal telepon nyaris tak ada.
Relawan harus berjalan ratusan meter melewati lumpur hanya untuk mendapatkan air bersih. Untuk berkomunikasi, mereka mesti berpindah hingga beberapa kilometer. Dari posko inilah pelayanan kemanusiaan dimulai—distribusi logistik, pembersihan puing rumah, hingga perbaikan rumah warga yang masih memungkinkan untuk dihuni.
Perjalanan menuju lokasi bukan perkara ringan. Tim relawan menempuh lebih dari 2.000 kilometer, melintasi Pulau Jawa hingga Sumatra. Kendaraan rusak, ban pecah, armada harus berganti di tengah perjalanan. Namun setibanya di lokasi, tak ada jeda untuk beristirahat. Kerja langsung dimulai.
Dari Dataran Tinggi Gayo hingga Wilayah Terisolasi
Bantuan juga mengalir ke wilayah dataran tinggi seperti Takengon dan Gayo Lues—daerah dengan tantangan geografis berat dan dampak bencana yang signifikan.
Di Bener Meriah, Pidie, dan wilayah lainnya, bantuan menyasar korban banjir dan longsor yang masih bertahan di pengungsian, termasuk kelompok rentan: perempuan, anak-anak, dan lansia. Dapur umum dan posko darurat menjadi tumpuan hidup sementara.
Irsan Sosiawan berulang kali menegaskan bahwa bencana tidak boleh diperlakukan sebagai peristiwa sesaat. Kehadiran di tengah masyarakat, menurutnya, harus diwujudkan dalam kerja nyata—bukan seremonial atau simbol politik.
“Dalam kondisi seperti ini, yang paling penting adalah empati dan keberlanjutan. Masyarakat tidak hanya butuh bantuan hari ini, tetapi pendampingan sampai mereka benar-benar pulih, ” menjadi pesan yang terus ia gaungkan
Menuju Pemulihan
Kini, kerja kemanusiaan di Aceh memasuki fase krusial. Kebutuhan darurat masih tinggi, sementara pemulihan jangka menengah mulai mendesak—perbaikan rumah, akses air bersih, sanitasi, hingga pemulihan ekonomi warga.
Relawan bersiap menjangkau wilayah-wilayah yang belum bisa dilalui kendaraan bermotor. Bantuan akan dipanggul, dibawa berjalan kaki, menembus jalur yang belum tersentuh.
Aceh perlahan bangkit, meski luka belum sepenuhnya sembuh. Di jalan-jalan berlumpur itu, satu hal menjadi jelas: pemulihan bukan soal siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang tetap hadir ketika sorotan mulai redup.
Dan di tengah sunyi pascabencana, kerja bersama itulah yang menjaga harapan tetap hidup.
NasDem Aceh menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan bergerak bersama masyarakat dalam situasi darurat kemanusiaan, khususnya di tengah musibah yang melanda Tanah Rencong. (Muhammad)

Updates.